PEKANBARU (KLIKRADAR.COM) — Sekretaris DPD I Partai Golkar Riau, Suparman, mengaku dirinya tidak pernah membayangkan jika dalam dàlam sejarahnya Golkar Riau kalah dalam Pemilu. Sehingga terjadilah lagu lancang kuning berlayar malam.
“Saya menyatakan waktu itu semua ketua DPD kabupaten/kota harus diganti,” ucap politisi senior Golkar itu saat diberi kesempatan menyampaikan motifasi kepada ratusan kader Golkar di kantor Sekretariat, Jalan Utama, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Kamis malam (23/07/2026).
Ia menjelaskan bahwa pihaknya bukan bermaksud dalam konotasinya, tidak seperti itu. Ia bermaksud membangkitkan gairah semangat partai Golkar sehingga semua emosi, bergerak. Sehingga dinamika pemilihan ketua DPD pada November 2025 lalu, semua masyarakat menyaksikan berjalan sesuai yang diharapkan.
Lebih lanjut papar Suparman dalam percaturan politik di Provinsi Riau, bahwa kompetitor dalam meraih hati masyarakat sudah mulai muncul.
Yang pertama, partai PDIP yang dinilai luar biasa yang ditekan di zaman Orde Baru bisa merebut posisi Golkar yang selalu menjadi pemenang dalam Pemilu.
“Dan dibawahnya sekarang partai Presiden. Siapa Presiden itu yang mungkin kompetitor yang berat bagi kita. Bahkan pernah Demokrat menjadi kompetitor kita karena Presidennya SBY. Dan hari ini kompetitir kita semakin banyak,” ucapnya.
Terkait hal itu, Suparman menyarankan agar Caleg Partai Golkar kedepan disusun dari awal untuk kabupaten, provinsi. Sehingga sudah bisa mendatangi masyarakat sesuai cara masing-masing. “Tapi yang paling penting bagaimana kita menang di semua line,” ucapnya.
Suparman mengaku sebagai Sekretaris DPD I Partai Golkar Riau dirinya tidak pernah menginjakkan kaki di kantor DPP sehingga dirinya terkesan orang rumahan.
“Sedangkan di rumah aja saya kadang-kadang ada juga yang enggak senang sama saya,” ucap dia.
Menurut Suparman, yang menjadi kompetitor Golkar adalah mereka yang tahu jurusnya yang nota bene berasal dari partai Golkar. Dicontohkan Presiden Prabowo dari partai Golkar, Surya Paloh juga dari partai Golkar.
“Tapi ada yang tidak paham kita perkembangan bagaimana membesarkan partai ini secara berjaringan,” ujarnya.
Ia mengaku dirinya pernah 6 tahun di penjara. Disana ia berkumpul dengan beberapa mantan ketua umum partai seperti Setyo Novanto, Annas Urbaningrum, Surya Dharma Ali (alm), mantan ketua partai PKS Lufthi dan sejumlah mantan petinggi partai lainnya.
“Kami disana itu berbaur. Dan ternyata dari sekian banyak ketua partai itu saya tidak melihat kelebihan hebatnya dari kita. Cuma kebetulan mindsetnya yang berbeda dengan kita,” ujarnya.
Ia mengatakan, kalau ada mekanisme, mekanisme itu yang kita hadang. Kalau ada kesempatan kawan kita pijak. Kalau ada peluang menjelekkan lawan kita jelekkan.
Sementara sifat-sifat tersebut, tutur mantan Ketua DPRD Riau itu, tidak ada sama mereka. Mereka saling mendukung. “Yang penting tujuannya satu yaitu, bagaimana kita memberi sistim di pemerintahan,” ucap dia. =fin
