PEKANBARU (KLIKRADAR) — Belasan keluarga besar rohis yang tergabung dalam Gerakan Kemakmuran Rohis (Gamuri) Riau meminta kepedulian pemerintah dalam memajukan sekolah-sekolah demi terwujudnya generasi muda yang berakhlak, mulia, berprestasi dan berkontribusi bagi bangsa.
Hal itu disampaikan anggota Komisi I DPRD Riau, HM Sumardany Zirnata ST MSc usai menerima Gamuri Riau, Senin (20/07/2026).
“Iya, adik-adik ini menyampaikan aspirasinya bagaimana sekolah-sekolah yang ada di Riau ini karena gerakan rohis yang ada di sekolah itu sangat sedikit. Kemudian mereka juga resah karena organisasi mereka ini sudah cukup lama (6 tahun) tapi belum diunggulkan,” ucapnya.
Menurut anggota DPRD Riau dapil Pekanbaru ini, untuk penyeimbangan arus informasi di era digital sekarang, pendidikan agama di sekolah-sekolah penting. Mereka pun mengkritik pemerintah karena kurikulum jam pendidikan agama di SMA malah dikurangi.
“Saya sangat apresiasi adik-adik ini yang memikirkan bagaimana sumber daya manusia yang ada di Riau ini bisa lebih maju lagi. Karena mereka berpikir untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia,” ujarnya.
Politisi fraksi Demokrat ini pun berharap agar pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap rohis ini. Hal ini agar bisa menyeimbangkan arus informasi di era digital ini menjadi senjata satu-satunya.
“Jam pelajaran agama jangan dikurangi Kalau bisa ditambah karena itulah modal kita untuk menjadi generasi Indonesia emas ini. Ini kan
masanya mereka nanti. Jadi jangan dikurang kalau perlu ditambah,” pungkasnya.
Terpisah, ketua Gamuri Riau Muhammad Farrel Alfatih yang dikonfirmasi terkait aspirasi yang disampaikan ke anggota Komisi I DPRD Riau, membenarkan aspirasi tersebut.
Ia mengatakan anak rohis sekarang di sekolah banyak tidak didukung oleh pihak sekolah dengan dalih sekolah tidak ada biaya. Terkait hal itu, ia pun meminta DPRD Riau agar menyampaikan ke Dinas dan ke Kemenag bahwa ada sekolah yang tidak mau mendukung siswa berprestasi.
“Karena di situ juga ada siswa yang prestasinya kayak lomba tahfiz, MTQ mereka itu tidak didukung. Karena katanya duit itu tidak ada di sekolah. Padahal dalam anggaran dana BOS saya lihat ada rincian untuk siswa pelajar untuk kegiatannya,” ucapnya.
Farrel juga menyoroti kegiatan pembelajaran agama. Berdasarkan investigasi di lapangan, pihaknya melihat jam mata pelajarannya itu dipotong atau dikurangin.
Menurutnya seharusnya mapel agama tidak boleh dipotong karena hal itu yang menjadi dasar kita kedepan, pungkasnya. =fin
