Belum Satu Hari Operasi, Pasien BPJS RS Prima Pekanbaru Disuruh Pulang, Keluarga Protes Takut Terjadi Infeksi

4 Menit Membaca

PEKANBARU (KLIKRADAR.COM) — Keluarga pasien BPJS di Rumah Sakit Prima Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru, memprotes pemulangan pasien bernama Andika (24), pasca operasi hernia yang dilakukan dr Kenny Edward YAP SpB, kurang dari 24 jam. Ironisnya, pemulangan tersebut dilakukan tanpa persetujuan orang tua pasien.

Menurut Jemmi ibu pasien kepada Klikradar.com, pasien bernama Andika menjalani operasi hernia di RS Prima Pekanbaru pada Rabu (8/7-2026) sekitar pukul 13.00 WIB.

“Kami mendaftar ke Rumah Sakit Prima Selasa (7/7-2026) siang dan kami disuruh rawat inap di kamar 619 B di lantai 5A.

Namun setelah diperiksa pihak dokter, akhirnya pasien disarankan untuk puasa sekitar pukul 03.00 WIB, Rabu (8/7) lalu.

“Operasi anak saya yang seharusnya pukul 11.00 WIB, ditunda menjadi pukul 13.00 WIB, Rabu (8/7).

“Yang menjadi pertanyaan, kenapa anaknya langsung dipulangkan, tanpa menunggu orang tua. Padahal kondisi anak masih lemah, lukanya juga baru sehari,” ujar salah satu anggota keluarga pasien kepada wartawan, Kamis (9/7-2026).

Keluarga menilai pemulangan terlalu cepat karena tidak sampai satu hari, itu berisiko terhadap pemulihan pasien. Mereka juga mempertanyakan prosedur rumah sakit yang tidak menunggu pihak keluarga.

“Sebelum dioperasi, pihak dokter dan perawat meminta agar orang tua hadir untuk memberi tanda tangan. Kenapa setelah operasi selesai, orang tua tidak ditunggu. Ada apa anak saya harus dipaksakan pulang mendadak. Kami jadi kawatir dengan kesehatannya,” kata ibu pasien yang juga didampingi sang suami inisial KP.

Padahal, kata KP, berdasarkan standar pelayanan pasien pasca operasi, umumnya butuh masa observasi untuk memantau kondisi luka, nyeri, dan efek bius. Untuk pasien anak, persetujuan orang tua/wali juga merupakan syarat mutlak sebelum pemulangan.

Keluarga berharap kejadian ini menjadi evaluasi bagi Rumah Sakit Prima agar pelayanan, terutama komunikasi dengan keluarga pasien, bisa lebih baik ke depannya dan jangan asal memulangkan pasien, padahal baru satu hari operasi.

Ketika dipertanyakan pemulangan pasien operasi hernia bernama Andika yang tidak sampai satu hari, di lantai 619, Rumah Sakit Prima, ditanggapi Putri boru Purba yang mengaku sebagai supervisor Rumah Sakit Prima. “Itu sudah keputusan dokter, setelah melihat pasien sehat,” kata Putri.

Namun saat ditanya apakah pemulangan pasien operasi hanya satu hari dirawat, adalah kebijakan BPJS atau pihak rumah sakit. Putri mengaku tidak ada keputusan BPJS, tapi kebijakan dokter yang menangani. “Dokter melihat pasien sudah sehat, makanya disuruh pulang,” kata Putri boru Purba.

Ternyata ada juga beberapa orang tua yang mengaku pemulangan pasien operasi sudah sering terjadi di Rumah Sakit Prima. Bahkan kamar penuh, padahal kenyataannya masih banyak kosong, juga sering terjadi.

“Katanya peraturan BPJS hanya dua sampai tiga hari. Kalau sudah pulang, boleh rawat inap lagi,” kata Andi yang mengaku sedang periksa kesehatan di Rumah Sakit Prima.

“Anak keluarga saya juga mengalami hal yang sama beberapa bulan lalu. Anak keluarga sakit hernia dan usus buntu dipulangkan, padahal baru operasi dua hari,” kata seorang ibu yang meminta namanya jangan ditulis.

Sementara Humas Rumah Sakit Prima, Sila yang dikonfirnasi melalui telpon selulernya mengaku dokter yang menangani sudah melihat pasien itu sehat.

Namun pemulangan pasien tanpa pemberitahuan atau tanpa menunggu orang tua pasien menurut Sila, bisa saja sudah ada pemberitahuan, hanya tidak menunggu orang tua pasien datang.

Ketika ditanya, apakah sistem memulangkan pasien operasi ini sudah sering terjadi di Rumah Sakit Prima, Sila membantah.

“Pasien disuruh pulang, setelah dirawat berdasarkan layanan kesehatan langsung oleh dokter dan perawat,” katanya.

Namun saat ditanya seringnya terjadi pasien BPJS yang kesulitan mendapat kamar karena alasan kamar penuh, dibantah Sila.

“Kamar rawat memang sering penuh, karena banyaknya pasien berobat. Kamar penuh itu karena ada pembagian kamar untuk pasien yang mengalami sakit berbeda. Kan tidak mungkin pasien disamakan, padahal sakitnya berbeda,” jelas Sila mengakhiri. ***

 

Bagikan Berita Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *