Produksi Minyak Blok Rokan Anjlok, Penyebabbnya Diduga Pipa Gas PT Transgasindo Bocor di Inhil

8 Menit Membaca
Kobaran api imbas ledakan pipa gas milik dan dioperasikan PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di Inhil, Riau.

Namun, insiden pada objek vital nasional tersebut juga berdampak sistemik pada produksi minyak nasional. Bahakn diketahui, pasokan gas yang diperlukan untuk operasional produksi minyak di Blok Rokan, yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tersebut pun anjlok.

“PHR sebagai produsen dan pengguna energi bergantung pada infrastruktur gas seperti pipa PT TGI (Transgasindo) yang terbakar. Sehingga jika ada gangguan pasokan gas, berarti terjadi potensi gangguan pada operasional. Efeknya lifting minyak nasional akan terganggu,” kata sumber Klikradar.com, Senin (5/1/2026).

Sebelumnya, Corporate Secretary PT Transgasindo Emil Ismail menyebut, pasca ledakan pipa, distribusi gas khususnya wilayah Riau pun dibatasi. Mengingat suplai gas hanya dari EMP Bentu. Namun Emil tidak merinci pihak-pihak yang mendapat imbas signifikan akibat pipa gas yang meledak.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, pasca insiden pipa gas PT Transgasindo meledak, terjadi potensi penurunan signifikan produksi minyak Blok Rokan. Bahkan, penurunan produksi pada wilayah kerja Rokan disebut mencapai 30 ribu barel per hari (bph).

Corporate Secretary PT PHR, Eviyanti Rofraida tidak menjelaskan detil dampak penurunan produksi minyak Blok Rokan akibat terbakarnya piga gas PT Transgasindo. Namun, Eviyanti mengakui PT PHR mendapat pasokan gas dari PT Transgasindo untuk mendukung operasi perusahaan.

“Pasokan gas tersebut digunakan untuk mendukung operasi PHR, khususnya pembangkit listrik untuk sumur-sumur minyak serta fasilitas operasi lain dan pembangkit uap untuk operasi Lapangan Duri,” kata Eviyanti dalam keterangan tertulis diterima SabangMerauke News, Senin kemarin.

Eviyanti menyatakan PT PHR terus berkoordinasi dengan PT TGI untuk memantau perkembangan perbaikan pipa gas yang bocor dan mitigasi guna meminimalkan dampak terhadap kegiatan produksi migas.

“Pertanyaan lebih jauh mengenai penyebab kebocoran pipa maupun perkembangan proses perbaikan pipa tersebut dan juga penanganan terkait kerugian yang timbul, dipersilakan untuk menghubungi langsung pihak TGI sebagai pengelola jaringan pipa gas tersebut,” terang Eviyanti.

Kerugian dan Korban Pipa Gas Meledak

Pipa gas yang dikelola PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) atau Transgasindo terbakar dan meledak di Desa Batu Ampar, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau pada Jumat (2/1/2026) lalu. Akibat insiden tersebut, suplai gas ke wilayah Sumatera mengalami gangguan sistemik.

Selain itu, ledakan dan kebakaran pipa gas juga menyebabkan sejumlah orang terluka dan kerusakan sejumlah properti milik masyarakat di sekitar lokasi kejadian.

Dilaporkan, ada sebanyak 10 orang yang mengalami luka. Rinciannya 6 orang menderita luka bakar dan 4 orang lainnya menderita luka ringan akibat terjatuh saat berupaya menyelamatkan diri dari kobaran api yang membumbung tinggi.

Selain itu, kebakaran hebat ini menyebabkan 5 unit truk dan lima sepeda motor terbakar. Kendaraan tersebut  sedang terparkir di kios pinggir jalan lintas Sumatera hangus terbakar karena jaraknya yang sangat dekat dengan pusat ledakan.

Kobaran api juga menghanguskan 3 unit bangunan usaha milik warga, yang terdiri dari sebuah bengkel ban, tempat pencucian motor, dan bangunan penampungan buah sawit. Tanaman kelapa sawit milik masyarakat juga rusak karena api.

Profil PT Transgasindo dan Kepemilikan Saham

Dikutip dari laman perusahaan, PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) atau Transgasindo didirikan pada tahun 2002 sebagai perusahaan patungan antara PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PT Medco LNG Indonesia dan Yayasan Kesejahteraan Pegawai dan Pensiunan PGN (YKPP PGN).

Adapun YKPP PGN memiliki porsi kepemilikan terkecil hanya sekitar 0,13 persen atau sebanyak 1.718 lembar saham. Kemudian PT Medco LNG Indonesia memiliki komposisi saham sebesar 40 persen atau sebanyak 542.749 lembar saham.

Sementara, BUMN sub holding gas Pertamina yakni PT PGN Tbk (PGAS) memiliki saham terbesar sebanyak 59,87 persen atau 812.400 lembar saham.

PT Transgasindo memiliki dan mengelola jaringan pipa gas bumi di Indonesia dengan total jaringan pipa sepanjang lebih dari 1.000 kilometer.

Perusahaan ini menjalankan bisnis dengan fokus pada transportasi gas bumi untuk pasar domestik yaitu Sumatra dan Batam serta pasar internasional seperti Singapura.

Alur pipanisasi gas yang dikelola PT Transgasindo terdiri atas 2 ruas, yakni ruas Grissik-Duri dan Grissik-Singapura.

Adapun titik kebakaran dan ledakan pipa yang terjadi ruas Grissik-Duri. Objek vital nasional pada ruas Grissik-Duri mencakup pipa sepanjang 536 kilometer dengan ukuran diameter pipa 28 inchi. Adapun kapasitas pipa pada kondisi free flow yakni 310 MMSCFD dan dalam posisi maksimum mencapai 427 MMSCFD.

Keberadaan ruas Grissik-Duri didukung oleh 2 stasiun kompresor yang berada Sekernan dan Belilas, Indragiri Hulu, Riau. Serta terdapat 22 sectional valve (SV).

Ruas Grissik-Duri mencakup 6 stasiun meter ultrasonic meliputi Tempino, Duri I, Duri II, EHK Perawang, PLN Duri, dan PLTGU Koto Gasib. Serta terdapat 6 stasiun meter orifis yakni uel Gas Sekernan, Fuel Gas Belilas, Fuel Gas Jabung, Seberida, Pertagas Koto Gasib, Minas Lama.

Selain itu, perusahaan ini juga menyuplai 8 shippers yakni ertamina Hulu Rokan, Energasindo Heksa Karya, PLN (Persero), PLN EPI, Pertamina Gas Negara, Kilang Pertamina Internasional, Pertamina Gas, Pertamina (Persero).

Sementara itu, ruas Grissik-Singapura memiliki pipa gas sepanjang 468 kilometer dengan diameter 28 inchi. Kapasitas pipa pada kondisi free flow sebesar 401 MMSCFD dan kondisi maksimum sebesar 465 MMSCFD.

Operasi ruas Grissik-Singapura didukung oleh stasiun kompresor Jabung dan 6 sectional valve (SV). Terdapat juga 4 stasiun meter ultrasonic berada di Simpang Abadi, PGN Panaran, Pemping, PLNB Pemping.

Distribusi pipa menyuplai ke 5 shippers, terdiri dari Medco EP Grissik, Petrochina International Jabung, PLN Batam, Pertamina Gas Negara, Energasindo Heksa Karya. Ruas Grissik-Singapura terhubung dengan pipa gas bawah laut. Dimana radar pengawas jalur pipa bawah laut berada di stasiun Panaran, Batam.

Ketinggian Api Capai 15 Meter

Diwartakan sebelumnya, ledakan pipa gas milik PT Trans Gas Indonesia (TGI) di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, mengakibatkan sedikitnya sepuluh orang warga mengalami luka-luka. Kejadian yang terjadi pada Jumat (2/1/2026) sore tersebut sempat memicu kepanikan luar biasa di sekitar lokasi kejadian.

Arus lalu lintas yang menghubungkan Provinsi Riau dan Jambi sempat ditutup total demi menjaga keamanan saat api masih menyembur ke udara.

Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Anom Karibianto, menjelaskan bahwa insiden bermula ketika warga mendengar suara dentuman keras. Tak lama setelahnya, api menyembur hingga ketinggian 15 meter akibat adanya kebocoran pada pipa gas bawah tanah tersebut.

“Sebagai langkah antisipasi, petugas dari Polsek Kemuning dan Polres Inhil segera melakukan pengamanan di lokasi dan meminta masyarakat agar tidak mendekat,” ujar Anom.

Pihak berwenang bersama teknisi terkait juga langsung melakukan penyekatan aliran gas untuk menghentikan semburan api.

Kasat Reskrim Polres Inhil AKP Budi Winarko mengatakan saat ini tim kepolisian masih berada di lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna menyelidiki penyebab pasti kebocoran pipa milik PT TGI.

“Penyelidikan mendalam terus dilakukan untuk memastikan apakah ada unsur kelalaian atau faktor teknis lain di balik musibah ini,” kata Budi. ***

Bagikan Berita Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *