MBG Makan Korban, 72 Siswa Jaktim Dirawat, Pengawasan Dipertanyakan

3 Menit Membaca
JAKARTA, (KLIKRADAR.COM) Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menuai sorotan. Sebanyak 72 siswa di Jakarta Timur harus menjalani perawatan medis setelah diduga mengalami keracunan makanan yang disalurkan melalui program tersebut.

Peristiwa ini terjadi di Kelurahan Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, dan memicu pertanyaan serius soal pengawasan distribusi pangan bagi siswa.Rekaman video yang beredar di media sosial sejak Jumat (3/4/2026) memperlihatkan ruang perawatan di sejumlah rumah sakit dipenuhi siswa berseragam sekolah.

Sebagian terbaring lemah di tempat tidur, lainnya duduk di kursi roda dengan selang infus terpasang. Situasi ini menggambarkan skala kejadian yang tidak kecil.

Data yang dihimpun menunjukkan, para siswa berasal dari beberapa sekolah penerima manfaat MBG, di antaranya SMA Negeri 91 serta SDN Pondok Kelapa 01, 07, dan 09.

Mereka dilaporkan mulai mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, dan demam beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan pada Kamis (2/4/2026).

Distribusi makanan pada hari itu dilakukan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2.

Menu yang disajikan terdiri dari mix vegetables, scramble egg tofu, stroberi, saus bolognese, bakso, dan spageti yang belakangan disebut sebagai salah satu item yang diduga menjadi sumber masalah.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengakui adanya dugaan keterkaitan antara menu makanan dengan gejala yang dialami siswa.

Namun ia menegaskan bahwa pemerintah belum menyimpulkan penyebab pasti sebelum hasil uji laboratorium keluar.

“Sebagian besar memang mengarah ke satu menu, tetapi kami tidak ingin berspekulasi. Semua akan disampaikan setelah ada hasil resmi,” ujar Pramono usai menjenguk korban di RSKD Duren Sawit, Sabtu (4/4/2026).

Meski kondisi para siswa disebut relatif stabil dan sebagian telah dipulangkan, insiden ini membuka kembali celah pengawasan dalam pelaksanaan program MBG.

Terlebih, ini bukan kali pertama dugaan keracunan mencuat dalam implementasi program tersebut di berbagai daerah.

Sejumlah pihak menilai, rantai distribusi makanan mulai dari pengolahan, penyimpanan, hingga pengiriman perlu diaudit secara menyeluruh.

“Program sebesar ini tidak boleh hanya mengejar target distribusi, tetapi juga harus menjamin keamanan pangan secara ketat,” ujar seorang pengamat kebijakan publik yang meminta namanya tidak disebutkan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan telah menghentikan sementara operasional SPPG Pondok Kelapa 2 untuk evaluasi.

Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan seluruh biaya perawatan siswa ditanggung negara. ***

 

 

Bagikan Berita Ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *