PEKANBARU—Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru mengambil langkah cepat usai ditemukannya puluhan warga binaan yang terjangkit tuberkulosis (TB).
Melalui kegiatan penyuluhan dan pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) tahap awal, Lapas memastikan seluruh pasien TB mendapatkan penanganan sesuai standar nasional.
Kegiatan penyuluhan digelar di Klinik Kesehatan Lapas pada Rabu (26/11/2025), dihadiri langsung oleh Kasi Binadik, Angki SA. Angki menyebutkan temuan kasus baru hasil pelaksanaan Active Case Finding (ACF) pada 13–17 Oktober 2025 menjadi perhatian serius pihaknya.
“Temuan 9 kasus baru ini menambah daftar hasil ACF sebelumnya. Kami berkomitmen penuh memutus rantai penularan TB di dalam lapas. Terapi OAT yang diminum langsung dan teratur selama minimal enam bulan menjadi kunci keberhasilan pengobatan,” ujar Angki.
Dalam penyuluhan tersebut, petugas kesehatan memaparkan pentingnya kepatuhan minum obat, potensi efek samping, serta penerapan pola hidup bersih dan sehat.
“Setiap warga binaan yang terkonfirmasi TB mendapatkan pendampingan khusus oleh tenaga kesehatan lapas dan pendamping pengobatan (PMO) dari sesama WBP yang telah dilatih sebagai kader kesehatan,” terang Angki.
Kepala Klinik Lapas Kelas IIA Pekanbaru, dr Yani, menyampaikan bahwa seluruh WBP yang terdeteksi TB langsung memulai regimen OAT kategori 1 seusai penyuluhan. “Pengawasan ketat dilakukan setiap hari oleh petugas kesehatan untuk memastikan pengobatan berjalan sesuai standar,” katanya.
Sebagai informaai pada ACF Oktober lalu, sebanyak 1.379 WBP diperiksa, dan 20 orang dinyatakan terpapar TB berdasarkan pemeriksaan klinis, foto toraks, serta Tes Cepat Molekuler (TCM). “Hingga November 2025, total 29 warga binaan terdeteksi mengidap TB,” kata Yani.
Lapas Kelas IIA Pekanbaru mencatat tingkat keberhasilan pengobatan TB mencapai 94 persen pada kohort tahun sebelumnya, angka yang jauh melampaui rata-rata nasional di lingkungan pemasyarakatan.
“Dengan respons cepat dan pengawasan harian, kami optimistis target eliminasi TB di lapas dan rutan pada 2030 dapat tercapai lebih cepat,” tegas Yani. ***
